Buku Two Islands, One Thread Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collections resmi diluncurkan dalam sebuah simposium di Radford Auditorium Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide, pada Sabtu, 12 September 2026. Simposium dibuka oleh Direktur program acara Two Islands, One Thread, yaitu Jason Smith. Kurator seni Asia AGSA, Russell Kelty menjadi pembawa acara dan moderator dalam simposium Two Islands, One Threads.
Beberapa penulis yang berkontribusi dalam Two Islands, One Thread di AGSA mempresentasikan tulisannya kepada peserta acara simposium internasional secara tatap muka di Radford Auditorium AGSA sekaligus membuka ruang dialog mengenai bagaimana tradisi lokal dapat terus hidup di tengah perubahan zaman. Mereka adalah James Bennet selaku editor utama, Michael Abbott, Lalu Hilman Afriandi alias Andi, Dina Faisal, Tetsu Ito, Emilly Collins, dan Philip Sykas.
Two Islands, One Thread mempertemukan 18 belas akademisi dan praktisi budaya, sebelas diantaranya berasal dari Indonesia untuk mengkaji tekstil dari Lombok dan Bali. Buku ini merekam suara penenun, pewarna, dan ahli ritual sebagai bagian utama pembahasan.
Para penulis yang
ikut berkontribusi dalam buku dengan jumlah 500 halaman lebih ini, yaitu James Bennett,
Michael Abbott, Ahmad Sugeng, Lalu Hilman Afriandi, Dina Faisal, Khaerul Anwar,
Salsabila Luqyana, Muchammadun, Bunyamin, Urmila Mohan, Lita Anindita Utami,
Aditya Bayu Perdana, Tetsu Ito, Emily Collins, Philip Sykas, I Made Rai Artha,
Bruce W. Carpenter, Ida Ayu Ngurah Puniari, I Bagus Wijna Bratanatyam.
Dalam simposium tersebut, Kepala Museum Nusa Tenggara Barat, Ahmad Nuralam memperlihatkan selembar kain songket sutera berwarna ungu bergambar burung endemik Australia, yaitu lyrebird (Menura novaehollandiae).
Two Islands, One Thread terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Lombok, yang menyampaikan tradisi tekstil Sasak dan Bali dalam interaksi budaya, agama, dan politiknya dengan Bali. Bab lainnya membahasa teknik benang pakan tambahan, praktik pewarnaan alami, serta pentingnya kain dalam ritual peralihan kehidupan dan ritual kematian masyarakat Sasak. Literatur manuskrip Sasak yang ditulis di atas daun lontar, pahatan arsitektur Bali – Lombok, serta dokumentasi foto yag diarsipkan dari masa kolonial Belanda semakin memperluas bukti-bukti yang relevan untuk digunakan untuk memahami tekstil Lombok.
Bagian kedua tentang
Connecting Threads, salah satunya menelusuri pergerakan Tekstil India,
Eropa, dan Jepang di seluruh kepulauan Indonesia yang menunjukkan bahwa Lombok
dan Bali sangat terhubung dalam jaringan maritim global yang tidak terisolasi.
Bagian ketiga, Bali,
yang membahas peran kain dan parktek penyembuhan, asal-usul dan hubungan
regional antara tenun ikat pakan dan songket, penggunaan tekstil sebagai hiasan
atau ornamen pura, serta pakaian ritual esoteris yang berkaitan dengan
kehidupan, kematian, dan sistem kalender.
Melalui Two
Islands, One Thread, pertukaran pengetahuan tekstil tidak hanya dilihat
sebagai hubungan antara masa lalu dan masa kini, tetapi juga sebagai peluang
untuk membangun masa depan tekstil yang lebih berkelanjutan dan berbasis
komunitas yang telah dipresentasikan dalam simposium Two Islands, One Thread
Lalu Hilman Afriandi dan Dina Faisal.
Kehadiran Andi
& Dina dalam peluncuran buku dan simposium Two Islands, One Thread di AGSA Adelaide
juga menjadi bagian dari perjalanan panjang pertukaran pengetahuan tekstil
antara Indonesia dan negara lain.
Bagi Lalu Hilman
Afriandi Andi & Dina, menjaga tradisi tekstil berarti memastikan bahwa
pengetahuan tersebut tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap dipraktikkan,
dipelajari, dan memberikan kehidupan bagi generasi berikutnya.
Two Islands,
One Thread menjadi simbol
bahwa meskipun Indonesia dan Australia dipisahkan oleh lautan, keduanya dapat
dipertemukan melalui sehelai benang tekstil, budaya, dan pengetahuan yang terus
diwariskan. (LHAs)

0 Komentar