Andi & Dina Persembahkan Dua Bendera Indonesia Dari Kapas Pintal Tangan

Pelajar SMA Negeri 1 Gerung, Lombok Barat mengibarkan bendera Indonesia di Rumah Kedaulatan Sandang Andi & Dina dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 (Foto: Dok. Andi & Dina/ Faiz Djuje)

Pada hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-81, Yayasan Andi dan Dina bersama Bidadariku® mengibarkan bendera Indonesia dari kapas yang ditanam di Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bendera berkibar pada tanggal 17 Agustus 2026 pukul 08.30 WITA di Rumah Kedaulatan Sandang Andi & Dina, Dusun Gumesa Timur, Desa Giri Tembesi, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pelajar SMA Negeri 1 Gerung, Kabupaten Lombok Barat turut berperan pada saat upacara peringatan hari Kemerdekaan RI ke-81. Mereka adalah Lalu Panji Aryadwiva (Pengebas bendera), Muhammad Edgar Fazira (Penggerek bendera), Baiq Vina Riyandhani (pembawa bendera), Faiz Aditya Achmad (Pemimpin upacara), Revita Azkia Qolbi (Pembawa Acara), dan Vista Astna Meza Syafhira (Pembaca naskah UUD 1945).

”Bendera kedua yang kami kibarkan ini juga terbuat dari kapas pintal tangan. Andi dan saya mengumpulkan benang kapas pintal tangan sejak tahun 2021 sampai 2023 dari dua desa, yaitu Sukadana dan Sukarara Kabupaten Lombok Tengah. Kemudian di tahun ini, kami proses menjadi dua helai bendera. Pameran Kedaulatan Sandang juga kami gelar supaya mengingat kembali bagaimana proses membuat kain menjadi bendera dari bahan baku kapas. Pemintal kapas merawat beberapa pohon kapas di pekarangan rumahnya.” Ujar Ketua Yayasan Andi dan Dina, Laila Hajarul Aswadina alias Dina Faisal yang menjahit bendera itu dengan tangannya.

Pelajar SMA Negeri 1 Sukawati, Bali mengibarkan bendera Indonesia di Pitaloka, Sanur, Bali dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila ke-81 (Foto: Dok. Andi & Dina/ Dina Faisal)

Sebelumnya, saat peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81, Yayasan Andi dan Dina bersama Pitaloka mengibarkan bendera Indonesia dari benang kapas pintal tangan di Pitaloka, Bali tanggal 1 Juni 2026.

Bendera merah putih yang ditenun selama 50 jam lebih di Mengilok, Desa Batujai, Kabupaten Lombok Tengah oleh Aninda Risdianti (24) itu dikibarkan oleh tiga pelajar dari SMA Negeri 1 Sukawati Bali, yaitu I Kadek Yongki Arinata (17), Dewa Ayu Dwi Hartati (16), I Gusti Nyoman Agus Pradnya Putra (17) mengibarkan bendera seberat 535 gram itu.

”Syukur Alhamdulillah, pada hari ini 1 Juni 2026, kita dapat berkumpul dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang ke-81, di Pitaloka, Sanur, Bali, di bawah sinar surya yang cerah dan dalam suasana penuh syukur. Kita bersyukur, karena hingga hari ini Indonesia di tetap berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan bersatu, di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi. Hari ini, kita juga patut bersyukur karena di angkasa Pulau Dewata, kita bersama-sama menyaksikan sebuah momen yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, hari ini kita mulai mengibarkan Sang Dwi Warna, Sang Saka Merah-Putih, yang dibuat dari kapas yang ditanam di negeri kita sendiri, dipintal oleh para pemintal di desa-desa kita sendiri, ditenun oleh perempuan desa kita, dan dijahit oleh tangan rakyat Indonesia.” Tegas Lalu Hilman Afriandi, pendiri Yayasan Andi & Dina saat membacakan amanat pembina upacara. 

Bendera yang diproduksi pertama kali oleh Andi & Dina dari kapas pintal tangan ini berukuran masing-masing 120 cm x180 cm dengan berat sekitar 500 gram. Lantas, bagaimana perempuan Sasak di Lombok mengolah kapas hingga menjadi kain dan akhirnya menjadi Sang Merah Putih? Simak kisahnya pada berita selanjutnya. (LHAs)

Posting Komentar

0 Komentar