![]() |
| Dina Faisal saat menjahit bendera merah putih di Pitaloka, Sanur Bali (31/5/2026) |
Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila ke-81, Yayasan Andi dan Dina bersama Pitaloka menyelenggarakan upacara peringatan yang berlangsung pada 1 Juni 2026 di Pitaloka, Sanur, Bali. Momentum ini tidak hanya menjadi peringatan lahirnya dasar negara Indonesia, tetapi juga menandai sebuah langkah bersejarah: pengibaran Sang Saka Merah Putih yang dibuat sepenuhnya dari rantai produksi rakyat Indonesia, mulai dari kapas, pemintalan, penenunan, hingga penjahitan.
Amanat upacara disampaikan oleh Lalu Hilman Afriandi, yang mengajak seluruh peserta untuk tidak sekadar memperingati Pancasila sebagai warisan sejarah, melainkan menjadikannya sebagai ideologi yang hidup dalam praktik sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan bangsa. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa kekuatan Indonesia selama lebih dari delapan dekade terletak pada Pancasila sebagai fondasi yang mampu mempersatukan keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama di Nusantara.
Salah satu momen paling penting dalam peringatan tahun ini adalah pengibaran bendera merah putih yang diproduksi sepenuhnya oleh tangan rakyat Indonesia. Kapas yang dipintal tangan untuk bendera merah putih dalam foto ini ditanam di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat lalu dipintal oleh para pemintal di desa, ditenun oleh Aninda Risdianti (24), dan dijahit oleh perempuan Kalimantan berdarah Bugis bernama Dina Faisal. Bagi Yayasan Andi dan Dina serta Pitaloka, bendera tersebut merupakan simbol nyata pelaksanaan nilai Persatuan Indonesia dan semangat berdikari sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa.
Bendera merah putih yang ditenun selama 50 jam lebih di Mengilok, Desa Batujai, Kabupaten Lombok Tengah oleh Aninda Risdianti (24) kini telah gagah berkibar di Pitakoka, Sanur, Bali. Tiga pelajar dari SMA Negeri 1 Sukawati Bali, yaitu I Kadek Yongki Arinata (17), Dewa Ayu Dwi Hartati (16), I Gusti Nyoman Agus Pradnya Putra (17) mengibarkan bendera seberat 535 gram itu. Tim Yayasan Andi dan Dina telah menerbitkan siaran persnya di sini.
Lalu Hilman Afriandi mengatakan bahwa dengan menumbuhkan delapan pohon kapas dalam satu musim panen cukup untuk membuat bendera berukuran 120x180 cm. Bendera ini berasal dari biji kapas pribumi (indigenous cotton seed) berjenis Gossypium hirsutum atau dalam bahasa Sasak disebut bunge jamak dan Gossypium barbadense atau dalam bahasa Sasak yang hingga kini dikenal dengan nama Bunge Bayan. Pohon kapas ditanam di pekarangan rumah pemintal di Desa Sukadana dan Desa Sukarara Kabupaten Lombok Tengah. Empat perempuan Sasak memintalnya, kemudian Andi dan Dina mengumpulkan hasil pintalan mereka sejak tahun 2021 hingga 2023 dan disimpan di Rumah Kedaulatan Sandang yang didirikan pada tanggal 11 Juli 2024 di Lombok. Tiga pemintalnya merupakan saudara kandung, yaitu Inaq Kecoh, Papuq Aris, dan Papuq Kriut dari Dusun Mongge, Desa Sukadana. (LHAs)

0 Komentar