![]() |
Tempat Tidur peninggalan leluhur Sasak "Gedong" di Rumah Kedaulatan Sandang Andi & Dina |
Beragam cara menarik dilakukan tim Yayasan Andi dan Dina untuk melestarikan budaya dan mewujudkan kedaulatan sandang Indonesia sebagai visi besarnya. Salah satunya dengan mendirikan Sekolah Kebudayaan Rakyat di Pulau Lombok.
Cara hidup leluhur yang bernilai itu perlahan dikumpulkan hingga menjadi sebuah narasi panjang. Ada pula yang berhasil divisualkan seperti tampak pada potret sebuah ranjang kuno Sasak lengkap dengan tiang bangunan kayu kates (Protium javanicum) yang berwarna hitam legam alami itu.
Andi & Dina mengenalkan cara hidup leluhurnya kepada ekspatriat dan generasi penerus Indonesia dengan mengajak mereka menghuni ruang sekolah berukuran 20 meter persegi yang dibangun oleh tim Yayasan Andi & Dina.
Andi merupakan pemuda lokal dari suku asli Sasak yang memulai perjalanannya sebagai aktivis nasional. Andi aktif melakukan berbagai advokasi saat tinggal di Jakarta. Sementara itu, Dina berasal dari Kalimantan dan berkarir di ibu kota Indonesia sebagai jurnalis televisi. Keduanya bertemu di Jakarta, lalu memutuskan menikah dan kembali ke Lombok untuk membangun bisnis yang dapat melestarikan budaya lokal.
Sejak 2016, Andi & Dina membangun kehidupan dan bisnis berbasis kearifan lokal—mulai dari tekstil, arsitektur, hingga pangan tradisional. Kecintaan mereka terhadap budaya diwujudkan dengan mengubah 4 hektar lahan menjadi perkebunan kapas alami (Gossypium sp.) sebagai bahan baku tekstil. Mereka juga aktif meneliti, mengembangkan warisan budaya, serta mendirikan lembaga pendidikan berbasis kebudayaan.
Menjadi tamu di Yayasan Andi & Dina bukan sekadar pengalaman, melainkan perjalanan kembali ke cara hidup leluhur. Kamu akan merasakan kehidupan yang sederhana namun bermakna—hidup selaras dengan alam, memahami ritme tradisi, dan belajar merawat diri tanpa bergantung pada modernitas.
Meski listrik telah masuk ke desa, Andi & Dina memilih untuk membatasi penggunaannya. Dari sana, mereka belajar bagaimana mata beradaptasi dengan kegelapan dan beristirahat secara alami. Namun, sebagai tamu, kamu akan difasilitasi kamar dengan akses listrik dan internet. Ketika aliran air berhenti, Andi menimba air dari sumur. Sayuran dipetik langsung dari pekarangan, sementara kebutuhan lainnya dibeli secukupnya di pasar tradisional.
Mereka juga merawat angsa, bebek, anjing, dan kambing sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dapur tradisional tanpa gas dan kompor modern menjadi pusat aktivitas, menggunakan daun, batang, dan batok kelapa kering sebagai bahan bakar. Semua dijalani sebagai bentuk kesiapan untuk hidup yang tidak bergantung pada produk pabrikan.
Kamu akan merasakan berjalan di malam hari dalam cahaya yang nyaris tidak ada, membiarkan mata perlahan terbiasa dengan gelap. Kegiatan diakhiri sebelum matahari tenggelam, mengikuti ritme alami yang telah dijalani selama ratusan tahun. Kamu akan tidur di rumah beratap alang-alang (Impreta cylindrica), berlantaikan tanah, dan berdinding bambu yang dianyam, ditemani angin yang jujur dan tenang.
Kepalamu akan bersandar pada bantal yang berisikan kapas alami tanpa pestisida dan diproses dengan tangan. Kalau kamu beruntung, kamu mungkin akan tidur di ranjang warisan leluhur suku Sasak dari masa kolonial bernama gedong, dilindungi kelambu katun yang dijahit tangan selama 13 hari oleh Dina. Setiap jahitannya menyimpan waktu, kesabaran, cerita, dan kesucian. Kelambu yang terdiri dari sembilan lembar kain leang atau basaq ini, ditenun oleh perempuan Sasak dalam keadaan suci atau tidak menstruasi, begitu pula saat menjahitnya.
Ini bukan sekadar pengalaman. Ini adalah perjalanan kembali ke cara hidup yang hampir hilang. Jika kamu ingin menjadi tamu atau relawan, silakan sapa kami di sini. (LHAs)

0 Komentar